Simulasi Bencana di Sekolah, Kemendikbud libatkan Taruna Siaga Bencana

18 Januari 2019

Jakarta, Kemendikbud — 

Isu kebencanaan masih menjadi topik yang urgen untuk terus digaungkan. Mengingat Indonesia merupakan negara yang rawan akan berbagai bencana khususnya bencana alam maka diperlukan sosialisasi pengetahuan atas kebencanaan itu sendiri sedini mungkin dan secara menyeluruh. Berangkat dari fakta tersebut, Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kabinet Terbatas beberapa waktu lalu mendesak kementerian terkait yakni Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk segera merealisasikan program yang berkaitan dengan bencana sehingga pendidikan kebencanaan tersistem dengan baik di seluruh sekolah.

Kemensos sebagai kementerian utama dalam masalah penanggulangan bencana akan bekerja sama dengan Kemendikbud dalam mengimplementasikan pendidikan kebencanaan di sekolah. “Di satu sisi Mensos memiliki tenaga instruktur dan tutor yang banyak yaitu dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), sementara Kemendikbud memiliki subjek yang bisa digarap yaitu sekolah dan siswa. Maka jika ini dipadukan akan menjadi kekuatan yang sinergis antara dua kementerian,” tutur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, di Kantor Kemendikbud pada Kamis siang (17/1/2019).

Senada dengan Mendikbud, Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa dalam menindaklanjuti instruksi Presiden, pihaknya akan segera merealisasikan program mitigasi bencana dengan Kemendikbud. “Didalamnya ada pelatihan, pendidikan, berkaitan dengan kerawanan terhadap potensi bencana,” katanya antusias.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Kemendikbud nantinya akan melibatkan para relawan dan tenaga sukarela di bawah kewenangan Kemensos. “Kami yang punya para relawan selanjutnya Kemendikbud melalui sekolah-sekolahnya memberikan kesempatan bagi para Tagana memberikan pelatihan-pelatihan dan simulasi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana,” katanya.

Mendikbud pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa program ini selain melibatkan Tagana, juga akan melibatkan pihak lain yang sudah terdidik dan berpengalaman dalam hal kebencanaan. “Kita ajak tim nasional, BNPB, juga tim-tim relawan nasional yang sudah bergabung yang sudah well organized dan sudah punya pengalaman, dan mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama masuk dalam salah satu program kita,” katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang sekolah mana saja yang akan mendapat pembekalan kebencanaan ini, Mensos mengatakan bahwa program ini diperuntukkan untuk seluruh sekolah. “Dalam waktu dekat akan ada simulasi nasional kebencanaan serempak. Namun untuk waktunya masih kita cari, untuk semua jenjang, semua komponen masyarakat, dan memang (dilibatkan pihak) terutama yang menjadi titik tumpu di sekolah,” ungkap Mendikbud memberi gambaran.

Ke depan, Kemensos yang telah memiliki data daerah rawan bencana akan berkoordinasi dengan Kemendikbud supaya program ini dapat dijalankan pada sekolah-sekolah di lokasi tersebut. Adapun program yang dilaksanakan dibagi menjadi tiga bagian yaitu pembekalan yang sifatnya informasi, teknik antisipasi dan penanganan bencana, serta simulasi yang melibatkan guru maupun organisasi intra sekolah seperti Korps Sukarelawan Sekolah, Palang Merah Sekolah dan Pramuka.

Tagana adalah suatu organisasi sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang berbasiskan masyarakat. Pembentukan Tagana merupakan suatu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan generasi muda dalam berbagai aspek penanggulangan bencana, khususnya yang berbasis masyarakat. Keberadaan Tagana selama sekitar empat tahun ini telah banyak melakukan kegiatan kemanusiaan dalam bencana dan kegiatan kesejahteraan sosial yang akhirnya menjadi salah satu organisasi yang diterima oleh masyarakat.

Selain itu hampir semua anggota Tagana telah mengikuti pelatihan di bidang penanggulangan bencana dan bidang kesejahteraan social sehingga menyebabkannya mampu melaksanakan aneka peranan di bidang penanggulangan bencana. Sebagai suatu organisasi, Tagana mampu mengembangkan program dan kegiatannya secara berkelanjutan.

“Jumlah Tagana saja saat ini ada sekitar 40.000 tapi karena alokasi pembentukan Tagana per tahun itu ada batasannya, sementara animo masyarakat untuk menjadi bagian dari Tagana itu besar sekali maka kami bentuk apa yang disebut Relawan Tagana dan Sahabat Tagana. Relawan Tagana dan Sahabat Tagana berbeda dengan Tagana Inti karena Tagana Inti diberikan pelatihan kedisiplinan serta pelatihan lain yang lebih menyeluruh dan teknis tentang kebencanaan. Jumlah Relawan Tagana dan Sahabat Tagana sekitar 65.000, jadi total keluarga besar Tagana bisa mencapai 100.000 orang di Indonesia,” kata Mensos di akhir sesi wawancara. (Denty Anugrahmawaty)

Rian Hidayat Kotae

Saya saat ini berkuliah di UNTAD, jurusan Pendidikan MIPA, Prodi Pendidikan Kimia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *